Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger Templates

Breaking News

🔄 Memuat breaking news...

Iklan

Iklan

komentar

Asing Ramai-ramai Jual Saham Bank, BBCA Terseret Sentimen Global Meski Fundamental Tetap Kuat

Nia
Senin, 27 April 2026
Last Updated 2026-04-27T05:23:58Z
masukkan script iklan disini

 


JAKARTA – Tekanan terhadap saham sektor perbankan nasional kian terlihat seiring derasnya arus keluar dana asing dalam beberapa waktu terakhir. 


Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang terdampak signifikan, meskipun secara fundamental perusahaan dinilai masih berada dalam kondisi kuat.


Pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), saham BBCA melemah tajam sebesar 5,84 persen ke level Rp 6.050. 


Posisi ini menjadi yang terendah sejak periode pandemi Covid-19 pada 2021. Dalam satu hari perdagangan, aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) di saham ini tercatat mencapai Rp 2,1 triliun.


Tekanan serupa juga terjadi pada saham perbankan besar lainnya. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,81 persen ke Rp 4.500 dengan net sell asing sebesar Rp 655 miliar. 


Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut melemah 2,85 persen ke Rp 3.070 dengan aksi jual asing mencapai Rp 447,3 miliar.


Analis menilai, fenomena ini bukanlah masalah spesifik pada satu emiten, melainkan mencerminkan tekanan sektoral akibat meningkatnya risiko makroekonomi. 


Perbankan, sebagai tulang punggung perekonomian, menjadi sektor yang paling sensitif terhadap perubahan kondisi global.


Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor utama pemicu tekanan tersebut. Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang belum mereda mendorong kenaikan harga energi global. 


Kondisi ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia serta meningkatkan beban biaya bagi perusahaan.


Selain itu, perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta peninjauan indeks oleh MSCI turut memperburuk sentimen pasar. 


Kombinasi faktor tersebut mendorong investor global melakukan penyesuaian portofolio dengan menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.


Meski demikian, di tengah tekanan eksternal tersebut, fundamental BBCA dinilai tetap solid. Pada kuartal I-2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun, tumbuh sekitar 4 persen secara tahunan. Kinerja ini masih sesuai dengan ekspektasi pasar.


Pendapatan non-bunga yang kuat dinilai mampu menopang kinerja di tengah tekanan margin bunga bersih (NIM). 


Dari sisi penyaluran kredit, BBCA mencatat pertumbuhan sekitar 6 persen secara tahunan, dengan segmen korporasi menjadi kontributor utama.


Sementara itu, kualitas aset perusahaan juga tetap terjaga. Perbaikan pada segmen wholesale mampu mengimbangi tantangan di segmen ritel, sehingga profil risiko secara keseluruhan tetap stabil.


Dengan kondisi tersebut, BBCA dinilai masih memiliki daya tarik bagi investor jangka panjang. Upaya perseroan dalam menjaga kepercayaan pasar juga terlihat dari kebijakan pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam setahun.


Ke depan, pergerakan saham perbankan diperkirakan masih akan dipengaruhi dinamika global. Namun, dengan fundamental yang kuat, BBCA dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan eksternal dibandingkan emiten lainnya.


iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Disqus Shortname

Comments system

Tag Terpopuler

Iklan